Sederet Kontroversi Ponpes Al Zaytun yang Viral Campur Pria Wanita Satu Saf
Abu Bakar Ash-Shiddiq - Ponpes Al-Zaytun di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat bikin heboh usai viral salat Idul Fitri campur satu saf dengan pria dan wanita. Belakangan diketahui, ponpes ini memang kerap menuai kontroversi.
Terkait itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Indramayu dan MUI Jawa Barat turut memberikan perhatian. MUI mengaku tidak mengetahui tata cara peribadatan yang dilakukan oleh Ponpes Al-Zaytun itu.
Dirangkum detikSulsel dari detikJabar, Selasa (25/4/2023) berikut sederet kontroversi Ponpes Al-Zaytun:
1. Salat Tidak Sesuai Anjuran Rasul
Ketua MUI Indramayu KH Satori mengatakan apa yang dilakukan Ponpes Al-Zaytun dalam melaksanakan salat dengan mencampur saf pria dan wanita tidak haram dan tidak membatalkan. Hanya saja, model seperti itu tidak sesuai dengan anjuran Rasulullah.
"Ya saya tidak tahu praktik. Ada perempuan di depan gitu ya secara hukum tidak haram dan tidak membatalkan tapi tata caranya tidak sesuai dengan tata cara anjuran Rasul tentang saf salat jadi perempuan kan di belakang tidak di depan," kata KH Satori saat dihubungi detikJabar, Minggu (23/4).
Selain itu, Satori menyoroti renggangnya jarak antarjemaah. Menurutnya saat ini tidak ada imbauan tentang aturan salat seperti saat pandemi COVID-19. Sehingga, seharusnya jarak dalam barisan salat lebih rapat.
"Iya berjarak maka itu jangankan kita di tingkat Kabupaten. Sekarang kan sudah tidak ada lagi aturan pembatasan jarak dan sebagainya sudah tidak pandemi lagi tapi tidak tahu ada inisiatif siapa atau aturannya. Secara hukum yang salat itu rapat dan lurus barisannya seperti itu," jelasnya.
2. Ponpes Al-Zaytun Dikenal Tertutup
KH Satori juga mengatakan Ponpes Al-Zaytun yang berada di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu itu terkesan sangat tertutup bahkan eksklusif. Sebab, sejauh ini tidak ada transparansi yang diterima oleh MUI.
"Memang Al-Zaytun itu kan pesantren di Indramayu, eksklusif kita tidak bisa intervensi apa-apa dan kalaupun kita tidak suka juga susah, levelnya nasional pun kadang tidak ditanggapin gitu," kata Satori.
Dengan adanya praktek salat Idul Fitri 1444 Hijriah yang beredar, MUI pun tidak bisa berbuat banyak atau melakukan intervensi terhadap Ponpes Al-Zaytun.
"Jadi terkait dengan itu, ya kami tidak bisa mengintervensi sebab walaupun berada di Indramayu, masyarakat Indramayu tidak pernah bangga adanya Al-Zaytun di Indramayu gitu. Sebab lagi-lagi ya eksklusif segala sesuatunya tidak mau dicampuri dan tidak ada seseorang pun yang bisa mempengaruhi," ujar Satori.
3. Sumber Dana dan Aliran Tak Jelas
Satori menjelaskan, MUI pernah mendatangi Ponpes Al Zaytun. Hanya saja dalam kunjungan itu, pihaknya tidak mendapat penjelasan yang pasti mulai dari sumber dana hingga paham atau aliran yang diajarkan pondok pesantren itu.
"Saya dulu justru itu dulu waktu baru berdiri santrinya baru belasan ribu, saya masuk ke situ, ternyata Al-Zaytun itu susah, tidak transparan, sumber dana dari mana? Dari umat Islam. Ini alirannya apa? Kita ya pokoknya pakai aliran Islam. Gak ada aliran Ahlusunah Waljamaah, pahamnya siapa-siapa gak ada," jelas Satori.
"Karena itu kami tidak pahami tentang Al-Zaytun. Dan kami lebih baik diam daripada ada semacam konflik horizontal antara sesama umat Islam," sambung dia.
4. Pendiri Ponpes Al-Zaytun Tuai Kontroversi
Al-Zaytun sendiri merupakan pesantren yang dibangun oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) pada 13 Agustus 1996 dan diresmikan Presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie pada 27 Agustus 1999.
Di balik berdirinya Ponpes Al-Zaytun, ada sosok pendirinya yang kerap menuai kontroversi. Dia adalah Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang atau Panji Gumilang. Tercatat dia sempat dikaitkan sebagai Imam Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah (KW) 9 pada 2011 lalu.
Namun, Panji yang menjadi pimpinan Ponpes Al-Zaytun ini dengan tegas membantah dirinya sebagai Abu Toto, seperti apa yang disebut sebagai petinggi NII KW 9.
5. MUI Jabar Minta Ponpes Al-Zaytun Diselidiki
Sekretaris MUI Jabar Rafani Akhyar mendorong aparat dan pihak terkait segera menanyakan maksud pihak Al-Zaytun menggelar salat tak biasa itu. Sebab hal tersebut menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
"Ini tiba-tiba muncul hal kontroversi, kan bisa membuat gaduh. Jadi ya patut diselidiki lah, mungkin oleh aparat bisa ditanya ke pimpinan Al-Zaytun apa maksudnya gitu, karena membuat gaduh kan ramai di medsos ya," kata Rafani saat dihubungi, Senin (24/4).
Selain itu, MUI bakal mendalami pelaksanaan salat Idul Fitri dengan mencampur jamaah laki-laki dan perempuan. Menurutnya hal ini harus segera dilakukan untuk meredam kegaduhan di masyarakat.
"Jadi nanti MUI juga akan mendalami, tapi aparat saya kira tidak salah kalau ya menanyakan ke pimpinan Al-Zaytun itu. (Mendorong aparat gali informasi?), iya gali informasi," tegasnya.
Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki tujuan yaitu Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan sosial dan keagamaan. Yayasan ini didirikan dengan tujuan untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dalam upaya meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan kesadaran akan pentingnya pendidikan sosial dan keagamaan.
Leave a comments